Connect
To Top

Tarian Kehidupan Ratih Soe Kosasie

Ia menari tango di stage. Ia tidak sekadar menggerakkan tubuh sesuai irama. Ada rasa yang terselip di setiap gerak. Ada jiwa yang menari di lantai kayu itu.

Ratih Soe Kosasie, penari itu. Yang kita kenal sebagai model era tahun 1980-an kini menjadi penari tango. Bukan hanya menarikan tarian khas Argentina, tapi Ratih memadukannya dengan kekhasan budaya Indonesia. Ia mengenakan kebaya ketika menari tango. Di tubuh Ratih, perpaduan tersebut menjadi penyatuan yang memberi warna berbeda di setiap geraknya.

Tango dan Filsafat Hidup

“Menari tango itu seperti filsafat kehidupan. Setiap gerakan ada maknanya bagi saya,” kata Ratih ketika ditemui di Ayung Resort, Ubud, Bali. Keringatnya masih membasahi tubuhnya usai pemotretan gerakan tango. Bagi Ratih, belajar tango seperti belajar hidup. Ada leader yang menuntun gerakan, yaitu suami. Ada follower yang mengikuti gerakannya, yaitu pasangan. Leader harus memastikan bahwa pasangannya bisa mengikuti langkahnya. Tidak terlalu cepat, tapi juga tak terlalu lambat. “It takes two to tango,” kata Ratih. Pengertian. Bahasa yang tak perlu diucapkan sehingga bisa memahami tanpa harus teriak. Demikian tango. Demikian maknanya bagi Ratih. Ketika ia menari, ia merasakan dunia yang berbeda. Ketika musik mengalun, jiwanya menari. Ada lagu yang mengekspresikan kegembiraan, ada pula lagu yang membisikkan kesedihan. Tetapi ada pasangan yang membimbingnya bergerak. Lalu sedih dan senang menjadi irama yang tak monoton.

“Pasangan tango itu juga unik. Tidak mudah kalau dicari. Bertemu begitu saja. Dan kita cocok,” kata Ratih. Ia pernah punya pasangan, tapi kemudian tidak sejalan. Lantas lama, ia berganti-ganti pasangan. Sampai Ratih berpikir, bahwa mungkin dia tidak harus punya pasangan. Dia untuk semua, sebagai tokoh di balik layar, bukan berpasangan di stage tango. Misalnya saat menginisiasi diadakannya Tango Paradise di Bali. Geraknya di belakang layar sehingga acara itu sukses sampai ke-3 kalinya.

tep-rsk-tango

Ratih Soe Kosasie dan Ezequiel Gomez / Foto: Sadikin Gani

Tapi kemudian, ia menemukan Fernando Bertola, partner barunya dari Argentina, di sebuah acara. Seperti jatuh cinta pada pandangan pertama. Dengan tango, dalam 5 menit, kita akan tahu apakah kita akan cocok dengan pasangan itu atau tidak. Ratih menemukan kecocokan, hingga kini. Seperti apakah sensualitas ketika mereka menari berpasangan?

“Ini terkait rasa kita saat menari. Sensualitas itu terjadi begitu saja. Tidak dibuat-buat. Sensuality, bukan sexuality ya,” tandas Ratih. Sensuality itu otomatis tercipta dari koneksi yang dalam dengan pasangan kita menari, passion, dan juga gerakan elegan yang kita lakukan. Rasa yang dalam itu tidak lahir dari sekadar sentuhan, tapi dari koneksi.

Di sisi lain, Ratih punya keluarga. Makanya, ketika ia menemukan pasangan untuk menari, ia pun mengenalkan pada keluarga. Terutama kepada suaminya, Alexander Kecil Kosasie. “Awalnya suami saya yang mengenalkan saya pada tango,” kenangnya. Dia tidak menyangka, kalau tarian yang ia duga kesannya untuk orang tua itu, membuatnya jatuh hati. Ia menemukan sesuatu dengan tango. Bahkan di usianya yang sudah kepala 5 itu, Ratih bisa melakukan stage tango dengan gerakan-gerakan yang sulit.

Kebaya, Bali, dan Komunitas Tango

Bagi Ratih, menari tango bukan sekadar meniru. Ia membawanya ke Indonesia, lantas menghadirkan tango dengan cita rasa Indonesia. “Kebaya itu kesannya busana yang mengikat tubuh. Padahal tidak selalu begitu,” kata Ratih. Ia mengenakan kebaya untuk melakukan stage tango. Memodifikasi kebaya sehingga busana bisa mengikuti apa yang dilakukan pemakainya. Cutting kebaya masih tetap melekat di tubuhnya. Tapi ada belahan hingga pangkal paha di kain yang dikenakan, sehingga gerakan tango bisa dilakukan dengan sempurna.

Dengan kebaya, ia bebas memasukkan kain tradisional untuk bahannya. Seperti yang dilakukan pada Tango in Paradise 2014, Ratih mempromosikan kain endek Bali. Setiap tahun, bahannya berganti-ganti. Tujuannya untuk mengenalkan kepada para peserta yang hadir dari berbagai negara, ke dunia internasional tentang kekayaan kain tradisional Indonesia. Juga penggunaannya tak hanya untuk upacara adat Nusantara.

Ratih pun membawa tango ke Bali. Tanah para Dewata itu membawa energi tersendiri pada tarian tango. Karenanya ia menamai Tango in Paradise. Membawa kemegahan tango di tanah yang indah dan magis. Selain di Bali, Ratih juga membentuk komunitas tango di Jakarta.

“Saya ingin membawa keajaiban tango ke lebih banyak orang di Indonesia,” kata Ratih tentang Tango Lover Jakarta. Organisasi yang beralamat di Kemang, Jakarta tersebut menjadi ajang para penggemar tango berkumpul. Berkala mengadakan kegiatan menari tango.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Icon

House of Harlow 1960