Connect
To Top

Kisah di Balik “Hate Couture”

Keffiyeh sempat menjadi trend. Kalangan selebritas seperti David Beckham, Kanye West, Colin Ferrell dan Ricky Martin ramai-ramai mewarnai penampilan mereka dengan keffiyeh. Di Barat, mengenakan keffiyeh lazim disebut ‘terrorist chic’ dan ‘hate couture’. Bagaimana bisa, dan mengapa?

Beberapa tahun lalu (2007) toko-toko pakaian seperti Le Chateau, Top Shop, H&M, dan Urban Outfitters mulai menjual scarf jenis keffiyeh/kufiya. Tak berselang lama, setelah seorang aktivis pro-Israel menudingnya mendukung terorisme, toko-toko tersebut menarik keffiyeh dari rak-rak pakaiannya. Meski tentu saja mereka menampik dugaan itu dan menyatakan tak ada urusannya dengan terorisme, tetap saja mengganti nama scarf-nya dari ‘anti-war woven scarf’ menjadi ‘handstooth desert scarf’.

Kejadian serupa dialami Dunkin Donuts. Pasalnya, Rachael Ray, juru bicara perusahaan tersebut mengenakan scarf mirip keffiyeh dalam sebuah tayangan iklan televisi. Terjadilah kontroversi. Terutama setelah dipicu pernyataan Michelle Malkin, komentator Fox News. Dalam blognya dia menulis “The keffiyeh, for the clueless, is the traditional scarf of Arab men that has come to symbolize murderous Palestinian jihad”.

Ada apa dengan keffiyeh?

Trend Keffiyeh di Barat

Di Barat, keffiyeh sempat menjadi trend. Selebritas seperti David Beckham, Kanye West, Colin Ferrell dan Ricky Martin hingga anak-anak muda ramai-ramai mengenakannya. Perancang busana, tentu saja ada di garda depan dalam soal itu. John Galliano dan Belenciaga adalah dua perancang yang tampil menjadi arus utama dalam kreasi keffiyeh di Barat.

Keffiyeh menjadi begitu akrab dalam gaya busana orang-orang Barat. Dikreasi ulang oleh para perancang, ikut mewarnai runway peragaan busana, dan menjadi populer di tangan selebritas. “Para perancang selalu tertarik dengan gaya eksotis Timur dan menirunya ke dalam koleksi rancangan mereka”, tulis Safana Zahili dalam artikelnya, “Keffiyeh Scarves: Fashion or Politics?”

Setelah memasuki Barat keffiyeh dikreasi ulang dan hadir dalam aneka warna. Tak hanya hitam-putih seperti yang umum dipakai orang-orang Timur Tengah. Cara mengenakannya dilipat membentuk segitiga, kemudian dililitkan di leher dan mengikatnya di bagian belakang, sehingga membentuk V di bagian depan. Untuk memastikan, coba simak video Kayne West, Can’t Tell Me Nothing. Gaya berbusana seperti itu lazim disebut ‘terrorist chic’ dan ‘hate couture’.

Penamaan penuh bias (prasangka) seperti itu  bukan tanpa sebab. Ada penjelasan sejarahnya.

Keffiyeh dan Perjuangan Pembebasan Palestina

Keffiyeh atau kufiya (bahasa Arab) adalah scarf dari bahan katun yang biasa dikenakan kaum laki-laki Arab dan Kurdi kono. Gunanya untuk melindungi kulit muka dari sengatan matahari, serta melindungi mata dan mulut dari debu padang pasir. Keffiyeh dibuat sebagai tanggapan budaya masyarakat di Timur Tengah menghadapi kerasnya alam gurun. Sesederhana itulah pengertian keffiyeh bila dilihat dari kegunaannya.

Kisah keffiyeh menjadi lain tatkala benda itu dijadikan simbol perlawanan bangsa Palestina menghadapi penjajahan Inggris di kawasan Timur Tengah.

Perlawanan rakyat Palestina terhadap Inggris sudah berlangsung sejak 1900-an. Masa itu perlawanannya belum terorganisasi. Baru pada 1930-an mereka melakukan perlawanan bersenjata yang terorganisasi. Bersamaan dengan itu keffiyeh dijadikan simbol perlawanan melawan penjajahan dan orang-orang Yahudi yang menduduki tanah-tanah mereka di bawah perlindungan Inggris.

Mereka yang melakukan perlawanan umumnya adalah kaum petani di pegunungan dan desa-desa kecil yang secara tradisional mengenakan keffiyeh.

Bagi bangsa-bangsa Arab, keffiyeh adalah simbol solidaritas terhadap perjuangan rakyat Palestina.

Keffiyeh sebagai simbol perlawanan mengalami popularitas dan menarik perhatian dunia tatkala Leila Khaled dan anggota Popular Front for the Liberation of Palestine—sebuah kelompok Marxis—mengenakan keffiyeh dalam lima aksi pembajakan pesawat internasional. Aksi tersebut sebagai bentuk resistensi terhadap agresi Israel di Tepi Barat dan Gaza.

Eksistensinya kian mendapat pengukuhan tatkala Yasser Arafat mengambil peran penting dalam perjuangan rakyat Palestina. Banyak orang berpendapat Arafat menggenakan keffiyeh dengan cara yang tidak biasa. Satu sisi dilipat di atas kepalanya, dan sisi lain dibiarkan menjuntai menutupi bahunya. Dipercaya bahwa itu untuk merepresentasikan peta sejarah Palestina pra-Israel.

Keffiyeh dan Propaganda Media

Bagi anak-anak muda di Timur Tengah, keffiyeh adalah simbol perlawanan atas ketidakadilan. Mengenakan keffiyeh adalah bentuk solidaritas terhadap perjuangan rakyat Palestina. Di Barat ada kecenderung ditanggapi sebaliknya. Mengenakan keffiyeh justru dianggap mendukung terorisme, atau setidaknya bersimpatik terhadap kaum teroris. Munculnya pandangan seperti itu tidak lepas dari propaganda media Barat dalam memberitakan dinamika politik di Timur Tengah dan isu terorisme.

Kita sering melihat teroris yang tertangkap mukanya ditutupi keffiyeh. “Itu adalah pemandangan umum di media-media Amerika Serikat hari ini,” tulis Imaaan Ali di situs MH Learning Solutions. Menurutnya, itu sangat merugikan karena mengidentikkan apapun tentang Arab dan Palestina dengan terorisme. Keffiyeh menjadi identik dengan pakaian teroris.

Mengasosiasikan keffiyeh dengan pakaian teroris tidak hanya muncul dalam tayangan televisi. Jika Anda berkesempatan memainkan Counter Strike (game), Anda akan menemukan profil para teroris lengkap dengan keffiyeh dan senapan AK-47.

Kuatnya propaganda semacam itu bisa kita lihat dalam catatan seorang blogger tatkala menanggapi penampilan Kayne West dalam video klipnya Can’t Tell Me Nothing. “Dalam video itu dia berada di gurun pasir… Ketika saya melihat scarf yang dikenakan di lehernya tampak seperti bandana besar. Saya berpikir, di mana saya pernah melihat itu sebelumnya? Saya ingat! Teroris!”

Tidak semua masyarakat di Barat memiliki pandangan seperti itu. Sebagian menyatakan fashion adalah fashion; teroris adalah teroris. Dua hal yang berbeda. Mengenakan keffiyeh atau apapun yang berasal dari Timur Tengah tak ada sangkut pautnya dengan dukung-mendukung politik dan ideologi tertentu, apalagi terorisme. Sebagian lagi justru merasa bangga mengenakan keffiyeh karena alasan politik dan solidaritas terhadap rakyat Palestina, bukan terhadap terorisme dan kekerasan.

Keterangan: Tulisan ini merupakan revisi atas tulisan saya berjudul “Kisah Keffiyeh” yang dimuat Time to Scarf (sudah tidak aktif), 4 Januari 2011.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Insight

  • Misteri Scarf

    Hidup sang penari modern Isadora Duncan berakhir dalam lilitan scarf, benda lembut yang menopang penampilannya sebagai penari saat kunjungannya ke Soviet....

    Mulyani HasanAugust 3, 2015
  • Hati-hati Memilih Warna Bandanna!

    Di Kalifornia, Amerika Serikat, bandanna dikenal sangat dekat dengan sub-culture gang. Fungsinya bukan sekadar aksesoris, juga tanda pengenal anggota gang.

    Sadikin GaniAugust 2, 2015
House of Harlow 1960